Michael Hyatt, salah seorang penulis populer di bidang manajemen waktu pernah bilang: “What gets scheduled, gets done”. Apa-apa yang terjadwal lebih mudah terselesaikan.
Tiap pagi sebelum memulai kerja, aku punya kebiasaan membuat checklist apa-apa yang akan aku kerjakan. Bukan cuma daftar pekerjaannya tapi sekaligus jam mulai dan selesainya.
Kebiasaan ini muncul beberapa tahun lalu setelah aku menonton salah satu video dari channel Better Than Yesterday tentang Implementation Intention. Pada video tersebut dijelaskan bahwa akan mudah bagi kita untuk memulai dan fokus pada pekerjaan ketika kita menciptakan pemicunya.
Untuk kasusku yang aku jadikan pemicu adalah waktu. Jika sudah jam 8 aku akan mengerjakan ini dan jika sudah jam 12 aku akan mengerjakan yang lainnya.
Teknik ini bekerja sangat efektif untukku.
Sebelumnya aku termasuk orang yang mudah terdistraksi. Bukan karena gak punya target kerja tapi karena terlalu mudah bilang “iya” saat ada orang minta tolong di tengah pekerjaan. Baru saja 15 menit fokus ngoding, ada yang njawil dan bilang “mas, bisa tolongin bentar?”.
Dan bentar itu kadang berubah menjadi sekian jam.
Akibatnya sering sekali pekerjaanku tidak selesai di jam kantor dan harus terbawa pulang. Masalahnya, pekerjaan yang sering terbawa pulang tadi mulai mengganggu waktu-waktu krusial bagi bujangan: main PS, baca novel dan mbribik gebetan.
Setelah mulai menerapkan cheklist tadi, perlahan semua berubah. Saat masih ada yang njawil di tengah kerja, aku bisa memintanya menunggu sampai jam di cheklistku selesai. Lama-lama para tukang jawil tadi menjadi bosan dan mungkin mencari target orang yang gampang gak enakan lainnya.
Sekian tahun berlalu dan tiba-tiba aku kepikiran untuk men-digitalkan checklist manual tadi. Alasannya sederhana, aku kepikiran selama satu periode kerja entah bulan, triwulan, atau tahunan itu waktuku habis untuk apa. Berapa jam yang aku gunakan untuk develop aplikasi, koordinasi, administrasi atau rasan-rasan masa depan negara.
Untuk kebutuhan tersebut, rasanya mustahil jika aku menghitungnya dari checklist manual di kertas tadi. Aku kemudian meluangkan waktu beberapa jam selama 2 hari ini dan akhirnya lahirlah aplikasi “Ngapain Aja“ ini.
Aplikasi ini memfasilitasi pencatatan cheklist kerja seperti yang aku lakukan manual sebelumnya, ditambah beberapa statistik laporan yang aku butuhkan. Ada laporan jumlah hari dan jam kerja tiap bulan serta persentase waktu yang dihabiskan untuk masing-masing jenis pekerjaan yang aku lakukan.
Aku membagi jenis pekerjaanku menjadi 3: aplikasi (coding, dokumentasi, dll), kegiatan (rapat, administrasi, dll), dan lainnya (istirahat dan kebutuhan pribadi). Setelah aku buatkan laporan persentasenya ternyata selama 1 bulan ini waktuku paling banyak habis untuk kegiatan (45%), aplikasi (35%) dan lainnya (20%).

Hmm.. menarik bukan.
Dan dengan model laporan statistik seperti ini, sebenarnya memudahkanku untuk melakukan evaluasi pribadi (kalau lagi pengen) serta njawabi orang-orang yang basi-basi bertanya aku sibuk apa. Tinggal aku buka aplikasinya lalu aku bilang: “aku iso lho gawe aplikasi ngene. kuwe pengen ra digawekke?“. 😁
0 Comments