Satu-satunya aplikasi yang tidak ada perubahan adalah aplikasi yang tidak digunakan.

***

Beberapa waktu lalu ketika pulang dari masjid habis duhuran, aku bertemu teman lama. Dulu kami seasrama waktu masih sama-sama mahasiswa dan sekarang berkumpul lagi setelah dia diterima menjadi dosen di sini.

Namanya bertemu teman lama, basa-basi tentu saja. Dia nanya, pus*** (demi menghindari tendensi pencitraan dan biar sedikit lucu saja, kita sebut pusmeong) sekarang sibuk apa? Bukankah penerimaan mahasiswa baru sudah selesai?

Hmm.. sebenarnya ini pertanyaan klasik tapi terus berulang. Pusmeong sibuk apa, bukankah wifi sudah terpasang? Pusmeong sibuk apa, bukankah siakad sudah jalan? Pusmeong sibuk apa, bukankah sudah gak pernah ada wa minta benerin hapenya? Wkwk.

Berhubung aku bagian dari tim pengembangan aplikasi di pusmeong, biar aku jelaskan sibuknya pusmeong dari sisi pengembangan aplikasi.

Punya hape kan? Coba dicek, dalam sebulan ada berapa notifikasi buat update aplikasi? 2 kali, 5 kali, atau 10 kali? Aplikasi itu kan sudah jadi, bisa dipakai, kenapa pula harus ada update aplikasi yang ngabisin kuota dan storage saja?

***

Di dunia pengembangan aplikasi ada istilah System Development Life Cycle atau SDLC. Ada siklus yang dimulai dengan perencanaan, analisa kebutuhan, pengembangan, implementasi, evaluasi lalu kembali ke perencanaan lagi.

Bukan koq aplikasi setelah jadi lalu berhenti. Ada kebutuhan untuk update yang mengikuti kebutuhan pengguna, perkembangan teknologi, serta ditemukannya bug atau celah aplikasi yang tidak teridentifikasi waktu proses analisa dan pengembangan awalnya.

Sebagai contoh aplikasi PBAK yang barusan selesai kegiatannya dan aku terlibat di dalamnya.

Awalnya dulu untuk pelaksanaan PBAK digunakan 3 aplikasi pendukung. 1 aplikasi pengumpulan tugas berbasis telegram, 1 aplikasi verifikasi tugas berbasis web dan 1 aplikasi lagi untuk cetak sertifikat kelulusan berbasis web.

Dulu awal-awal pelaksanaan PBAK menggunakan aplikasi memang tidak ada cukup waktu untuk perencanaan yang matang. Covid melanda sementara PBAK harus dilaksanakan segera tanpa boleh ada kerumunan.

Tahun berikutnya dilakukan evaluasi bahwa penggunaan 3 aplikasi untuk 1 kegiatan ini repot sekali. Aku gabungkan 3 aplikasi itu jadi 1. Tahun berikutnya ada evaluasi lagi, tahun berikutnya ada evaluasi lagi dan terus begitu.

Kadang evaluasi itu terjadi bukan karena buruknya perencanaan tapi karena terbatasnya waktu eksekusi. Proses bisnis berubah sementara waktu yang tersedia untuk eksekusi perubahan dari sisi aplikasi mepet sekali.

Yang terjadi selanjutnya adalah memilih prioritas modul yang harus ada dulu untuk dikembangkan sementara modul-modul lainnya yang secara perencanaan memang diperlukan tapi tidak nutut waktunya, kita masukkan dalam laporan pengembangan untuk dieksekusi pada periode pengembangan berikutnya.

PBAK tahun ini sendiri tidak ada perubahan mendasar dari sisi proses bisnisnya, tapi apakah berarti aku berleha-leha? ha yo tidak saudara.

Ada proses sinkronisasi data maba yang dulu masih dilakukan via query, ada kebutuhan optimasi display data yang tiap tahun semakin bertambah jumlahnya, dan seterusnya dan seterusnya.

Maka, kalau ada orang yang beranggapan bahwa sekali aplikasi selesai lalu bisa digunakan selamanya tanpa perubahan, mungkin dia sedang menganut faham wahabi aplikasi yang kencang dan puritan terhadap perubahan.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *