Jika kamu seorang alumni, apakah kamu mau mengisi tracer study?
Pertanyaan ini sebenarnya muncul satu tahun yang lalu. Aku terlibat dalam perhitungan IKU (Indikator Kinerja Utama) kampus dan menemukan fakta mengherankan di mana capaian IKU terkait alumni begitu luar biasa.
Aku membuat catatan tapi aku lupa menaruhnya di mana. Tahun ini ketika aku terlibat lagi dalam perhitungan capaian IKU, ingatan tersebut kembali muncul dan biar tidak hilang aku tuliskan saja di sini.
Tracer study adalah survei yang dilakukan kepada lulusan perguruan tinggi beberapa waktu setelah mereka menyelesaikan pendidikan. Survei ini dilaksanakan untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi alumni setelah lulus sehingga didapatkan bahan untuk evaluasi dan meningkatkan mutu ke depan.
Yang menjadi kendala dalam pelaksanaan tracer study adalah respon yang sangat rendah dari para alumni. Mereka sudah lulus dan ketika diminta mengisi survei yang banyak tadi, apa pentingnya buat mereka?
Kalau kita Googling, ada beberapa alternatif solusi untuk mengatasi minimnya respon alumni seperti menjalin komunikasi dengan lebih intens, menyederhanakan isian atau memberi reward bagi mereka yang mau mengisi.
Ini solusi yang masuk akal tapi menurutku ada yang kurang. Kalaupun akhirnya mereka mau mengisi surveinya, kadang lebih karena dorongan eksternal yang bersifat sementara. Akibatnya banyak ditemui isian survei yang tidak lengkap, asal-asalan dan seperti sekedar formalitas agar cepat selesai.
Kita semua adalah alumni mulai dari jenjang sekolah dasar sampai kuliah. Sekarang coba ingat-ingat ketika masing-masing almamater tadi mengadakan acara seperti temu alumni misalnya, kenapa kita ingin menghadiri yang satu tapi acuh dengan lainnya?
Ada dorongan internal di sini dan itu adalah ikatan emosi.
Ikatan emosi seperti ini tidak bisa dibangun dari sudut pandang kebutuhan kampus. Kita harus membaliknya dari sudut pandang alumni dengan pertanyaan dasar apa yang kira-kira membuat mereka terikat dengan kita. Jika ikatan emosi ini terwujud, maka bukan cuma tracer study tapi kegiatan-kegiatan lain yang terkait dengan alumni akan jauh lebih mudah kita penuhi.
Karena aku juga seorang alumni, aku coba menanyakan pertanyaan tadi pada diriku sendiri. Menurutku setidaknya ada tiga hal yang bisa membuat alumni terikat secara emosional dengan almamaternya: kebutuhan, kenangan, dan kebanggaan.
Waktu baru lulus, pikiran kita akan beralih dari tugas kuliah ke lowongan pekerjaan. Pada fase ini, aplikasi tracer study akan dilirik ketika bukan cuma meminta isian data, tapi juga menyediakan informasi kerja atau sekalian pelatihan-pelatihan gratis yang mendukung kita mendapatkan kerja.
5 tahun kemudian ketika pekerjaan mulai mapan, kita mungkin akan mulai kangen untuk kembali kumpul dan mendengar kabar teman-teman lama. Sosial media menyediakan kebutuhan ini tapi bukankah akan lebih memudahkan ketika aplikasi tracer study memfasilitasi para alumni untuk menampilkan sosial media mereka. Dengan menyediakan fitur ini, ketika misal kita kehilangan kontak teman lama, kita bisa mengintip lagi ke aplikasi tracer study.
10 tahun berikutnya, saat karir kita menanjak, orang-orang mungkin akan bertanya kita lulusan dari mana. Kalau sekedar menjawab nama kampus, terasa biasa saja. Kita bisa menambahkan beberapa cerita tentang kemajuan kampus yang kita dapatkan infonya lagi-lagi dari aplikasi tracer study.
Kalau toh misal di urusan karir kita masih dalam posisi biasa, saat mendengar kampus yang terus berkembang atau cerita teman yang naik ke level nasional bahkan internasional, cerita-cerita itu tentu akan sangat membanggakan.
Hal-hal di atas sebenarnya hanya angan-angan belaka tapi karena saking bengongnya aku bahkan sempat memikirkan detail teknis seperti kapan momen paling tepat aplikasi ini bisa dimulai, bagaimana detail posting, embed sosial media, privasinya, serta nama yang pas untuk aplikasi ini.
Untuk urusan nama yang terpikir ada kata family-nya tapi sekali lagi ini cuma sebatas angan-angan saja. Pekerjaanku sudah penuh setahun ini, jadi tulisan ini dibuat dalam rangka menghargai ingatan yang muncul kembali serta barangkali ada yang akan mendapat inspirasi.
0 Comments