“I recently learned about this term called quiet quitting, where you’re not outright quitting your job, but you’re quitting the idea of going above and beyond.” @zaidleppelin.

***

Takdir yang berwujud algoritma mesin pencari baru-baru ini mempertemukanku dengan sebuah video yang membahas fenomena Quiet Quitting. Aku menyebutnya takdir karena aku sama sekali tidak mencari video tadi. Aku hanya beberapa kali menulis kata capek di chatGPT lalu beberapa hari setelahnya muncul video tadi di platform yang berbeda.

Quiet quitting sendiri, sebagaimana disampaikan @zaidleppelin di atas, adalah kondisi di mana kita tidak berhenti bekerja tapi kita berhenti memberikan lebih dari tanggung jawab pekerjaan kita.

Ada beberapa alasan yang bisa mendorong seseorang mengambil sikap quiet quitting seperti: burnout dan kelelahan, ketidaksesuaian antara kontribusi dan imbalan, bantuan yang perlahan berubah menjadi kewajiban, atau kesadaran bahwa hidup dan pekerjaan perlu memiliki porsi yang seimbang.

Kalau melihat ke belakang, sepertinya aku mengalami semuanya.

Aku mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres ketika kelelahan di tempat kerja mulai terbawa sampai ke rumah. Pernah suatu kali aku memarahi anak dengan kelewatan atau di lain waktu beberapa kali aku ketiduran saat menemani mereka belajar.

Soal memarahi anak tadi, setelah menyesal dan memikirkannya, mungkin alasannya bukan hanya kelelahan fisik semata. Ada ganjalan-ganjalan emosional yang selama ini kuabaikan tapi terus menumpuk dan mencapai puncaknya.

Soal remunerasi misalnya. Jamak rasan-rasan tentang beberapa orang yang banyak nganggurnya tapi mendapatkan nominal yang sama atau bahkan lebih tinggi.

Lalu soal pengelolaan salah satu aplikasi. Hal-hal yang dulu aku hanya membantu karena keterbatasan pengelola di urusan teknis, lama-lama semua itu seolah menjadi tanggung jawabku. Belum lagi setelah aku tahu bahwa ternyata para pengelola itu mendapatkan tambahan penghasilan dari sana sementara aku hanya dapat capeknya saja.

Selama ini aku bisa mengabaikannya karena menganggap itu urusan pribadi masing-masing. Masalahnya rasa abai tadi bisa menipis menjadi sensitif ketika kondisi keuangan sedang berantakan. 😅

Pada titik ini aku mulai mempertanyakan prinsip-prinsip seperti khoirunnas anfauhum linnas, sam’an wa tha’atan, seng waras ngalah, gusti mboten sare dan seterusnya.

Kenapa ketika aku berusaha menerapkannya justru aku merasa hanya jadi alas kaki bagi mereka-mereka? Lalu pertanyaan yang paling mendasar dari itu semua.., sebenarnya ini semua untuk apa?

Mungkin ini yang disebut krisis paruh baya.

Pada akhirnya aku tidak sedang menyalahkan siapa-siapa. Aku hanya mulai menyadari bahwa ada yang perlu aku ubah dari caraku memandang pekerjaan.

Kita masih bisa bekerja dengan baik, bertanggung jawab dan memberikan lebih dari kewajiban tapi bukan berarti semua hal harus kita kerjakan, semua permintaan harus kita penuhi dan semua persoalan harus kita pikirkan.

Hidup dan pekerjaan perlu memiliki keseimbangan dan mengutip apa yang disampaikan Dodit: “Kita itu sebenarnya gak sepenting itu“. 😂


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *