Sebagai seorang programmer kapan terakhir kali kalian membuat dokumentasi?


Aku memulai karir sebagai seorang programmer sejak tahun dua ribu belasan awal. Terjebak sebenarnya, karena dari lubuk hati yang paling dalam aku lebih menikmati baca buku dan tidur-tiduran.

Hal yang aku lakukan sebagai programmer tentu saja membuat aplikasi. Sekian aplikasi berhasil aku kembangkan tanpa sekalipun membuat dokumentasi.

Aku tahu, secara teori membuat dokumentasi adalah keharusan dari sebuah proses pengembangan aplikasi. Sayangnya, teori ini tidak berlaku bagi organisasi yang hitungannya masih pemula dengan gegap gempita digitalisasi. Pokoknya apa-apa didigitalkan, apa-apa dibuatkan aplikasi.

Aplikasi adalah tujuan akhir digitalisasi sementara dokumentasi hanya membuang waktu saja.

Sekian tahun berlalu hingga kemudian ada kebutuhan penilaian angka kredit yang laporannya harus disertai bukti dokumentasi. Aku dan teman-teman lain yang sebelumnya tidak pernah membuat dokumentasi tentu saja gelagapan. Meski kemudian mau tidak mau kami harus tetap membuatnya demi bisa naik pangkat dan naik gaji.

Bagiku sendiri membuat dokumentasi itu bukan hal yang mudah. Berminggu-minggu bergulat dengan bahasa komputer ketika membuat aplikasi lalu ketika akhirnya aplikasi jadi, harus berpindah ke bahasa manusia ketika membuat dokumentasi. Itu sama seperti orang Sunda yang tiba-tiba disuruh bicara bahasa Madura.

Banyak dokumentasi yang kemudian aku hasilkan dan kebiasaan ini masih aku teruskan sampai sekarang meski sudah tidak ada lagi tagihan angka kredit.

Alasannya sederhana, idealisme untuk memenuhi kaidah pengembangan aplikasi dengan benar (ehem..) ditambah kodrat manusia yang kadang bisa lupa. Dokumentasi bisa menjadi penyelamat ketika suatu ketika aku harus mengembangkan aplikasi yang sekian bulan tidak disentuh lalu tiba-tiba ada target dadakan. Dokumentasi bisa menjadi pijakan awal yang baik.


Beberapa minggu kemarin aku mengerjakan aplikasi untuk mengukur maturity BLU. Gara-gara mengembangkan aplikasi ini, aku jadi tahu bahwa organisasi yang tidak melakukan dokumentasi dengan baik, level kematangannya terhitung semenjana. Pengetahuan masih tersimpan di kepala manusia, belum menjadi pengetahuan organisasi.

Aku langsung teringat dengan dokumentasi-dokumentasi yang pernah aku bikin sebelumnya dan ternyata setelah dikumpulkan jumlahnya puluhan. Aku bisa menemukan file-file dokumentasi ini di Google Drive tapi aku kesulitan untuk menghubungkan satu file dengan file lainnya padahal saling terkait karena dalam lingkup aplikasi yang sama.

Ide pun kemudian muncul untuk membuat aplikasi untuk membantu mengelola file-file dokumentasi tadi. Aku membuat fitur untuk mengelola file-file nya serta menambahkan beberapa laporan statistik seperti gambar di bawah.

Dari statistik di atas aku jadi tahu berapa dokumentasi yang aku hasilkan per tahunnya atau per aplikasinya. Selain itu aku juga jadi tahu mana aplikasi yang masih aktif dikembangkan (karena dokumentasinya bertambah) atau aplikasi yang sudah mati suri karena tidak ada penambahan dokumentasi sama sekali.


Aplikasi ini memang sederhana, tapi untuk kebutuhan pengelolaan dokumentasi aku sudah sangat puas dengan fitur-fiturnya. Statistik yang tergambar membuatku tetap semangat untuk membuat dokumentasi aplikasi-aplikasi yang aku kembangkan.

Bahwa kemudian dokumentasi itu setelah jadi tidak ada yang membaca selain penulisnya (meski sudah dibagikan kepada semua yang berkepentingan), ya tidak apa-apa. Kalau mau membuat dokumentasi yang dibaca orang lain, ya sana.. KERJAKAN THESISNYA. 🤣


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *