Susah-susah bikin dokumentasi, buat apa .. ?

Baru saja kemarin aku membuat dokumentasi pengembangan aplikasi Sisnas. Aplikasi Sisnas itu aplikasi yang kami gunakan untuk melakukan seleksi mahasiswa baru dari jalur SNBP.

Kegiatan pembuatan dokumentasi seperti ini rutin aku lakukan mungkin sejak 3 atau 4 tahun yang lalu. Waktu itu ada kebutuhan untuk mengajukan KUM (kredit usaha minimal) sebagai syarat kenaikan pangkat dan jabatan.

Sebelum-sebelumnya hampir tidak pernah karena tuntutan pekerjaan selalu tinggi. Pimpinan ketika memberi pekerjaan, hal yang selalu ditanyakan adalah kapan aplikasinya jadi. Soal dokumentasi tidak pernah ada dalam bayangan mereka.

***

Dokumentasi itu, secara teori mutlak harus ada. Kalau kita baca buku-buku referensi tentang rekayasa perangkat lunak, dokumentasi hampir selalu ada di tiap fase SDLC. Mulai dari analisa kebutuhan, desain, implementasi, hingga evaluasi. Kenyataan bahwa di lapangan tidak seperti itu, yang aku rasakan mungkin karena 2 hal.

Pertama tentu saja karena tuntutan pekerjaan yang tinggi itu tadi. Misal secara analisa harusnya aplikasi dikerjakan selama 2 bulan, yang dituntut pimpinan bisa jadi 1 bulan harus selesai. Setelah 1 bulan itu pun mau bikin sedikit catatan saja sudah tidak sempat karena keburu ada tuntutan pekerjaan lain lagi.

Yang kedua karena faktor lintas dimensi. Pengembangan aplikasi itu pekerjaan teknis sementara pembuatan dokumentasi cenderung administratif.

Programmer yang satu bulan sebelumnya berkutat dengan hal-hal teknis kemudian setelahnya diminta mengerjakan pekerjaan administratif, rasanya seperti orang Jawa yang tiba-tiba pindah ke China. Susah sekali ngomongnya. Yang aku alami sendiri setidaknya butuh waktu bisa sampai satu hari hanya untuk pindah zona pikiran dari yang teknis ke administratif tadi.

Pertanyaannya sekarang, kenapa hal ribet seperti itu masih aku lakukan? Bukannya kenaikan pangkat dan jabatan sekarang cukup menggunakan SKP?

Hal yang sama aku tanyakan pada ChatGPT. Jawabannya panjang lebar tetapi jika diringkas seperti ini.

Bagi programmer, membaca aplikasi tanpa dokumentasi ibarat arkeolog yang menemukan situs purba. Butuh waktu lama untuk memahaminya.

Aku rasa ChatGPT benar. Contoh paling dekat misalnya aplikasi Sisnas yang aku sebut di atas. Aplikasi itu hanya digunakan satu tahun sekali dan aku sering merasa kesulitan untuk mengingat detail alur kerjanya saat aplikasi ini kembali digunakan. Pertanyaan seperti, dulu kayanya ada data yang perlu di-inject manual karena ada permintaan update tapi belum sempat dikerjakan modulnya. Tapi.. data apa ya?

Hal-hal yang seperti itu tentu saja memakan waktu untuk melakukan penelusuran agar tidak terjadi kesalahan. Persis yang digambarkan ChatGPT, sudah mirip arkeolog.

Akhirnya dokumentasi tetap aku kerjakan. Bukan dokumentasi lengkap sebagaimana teori tapi aku batasi pada 2 hal yaitu dokumentasi operasional agar operator yang ditugaskan tidak kebingungan serta dokumentasi pengembangan agar programmernya ingat terakhir kali mengubah atau menambahkan apa.

Sebagai penutup percakapan, ChatGPT memberikan kata-kata mutiara agar pekerja IT atau programmer sepertiku punya motivasi untuk tetap mengerjakan dokumentasi. Katanya ..

Your future self will thank you.

Lalu aku balas.. tenanee.. 🤣


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *